Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kemenperin Muhdori meyakini meskipun kinerja industri TPT sempat turun 4,79 persen pada 2015 akibat krisis ekonomi global, peluang pertumbuhan tahun ini masih sangat besar ditopang oleh konsumsi produk TPT di dalam negeri.
“Indonesia mampu merespons krisis global secara tepat dan sudah mulai menunjukan perbaikan di sisi ekonomi nasional. Apalagi kelas menengah yang menjadi lokomotif konsumsi nasional menyumbang cukup banyak pertumbuhan ekonomi,” kata Muhdori dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muhdori melanjutkan sepanjang 2015, sektor TPT telah memberikan kontribusi 1,22 persen terhadap PDB nasional dan mengalami surplus ekspor sebesar US$4,31 miliar.
"Industri pakaian jadi di China sudah tidak mungkin bisa meningkat karena tingkat pengupahan sudah hampir US$700 per bulan," jelas Ade.
Akibatnya, lanjut Ade, banyak pelaku industri tekstil hijrah dari China ke negara-negara padat penduduk yang tingkat upah buruhnya masih terjangkau. Indonesia dan Vietnam antara lain yang saat ini menjadi alternatif persinggahan modal.
Namun, target pertumbuhan industri TPT sebesar 6,33 persen yang dipatok pemerintah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan yang dibuat asosiasi yang hanya mencapai 2-3 persen pada tahun ini. (gen)