Kepala BPS Suryamin mengungkapkan surplus Maret dipicu oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$790 juta. Sementara, untuk sektor migas masih tercatat defisit sebesar US$300 juta.
"Secara akumulatif, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga Maret tercatat sebesar US$1,65 miliar,"tutur Suryamin di kantornya,Jakarta, Jumat (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor sektor nonmigas tercatat sebesar Rp10,56 miliar atau naik 3,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan ekspor migas tercatat naik 10,4 persen menjadi US$1,23 miliar.
"Ada perbaikan harga komoditas, dari 23 komoditas yang biasa dipantau ada 17 komoditas yang menunjukkan peningkatan (harga) month to month, tiga komoditas (harganya) sama, dan tiga komoditas harganya masih menurun," ujarnya.
Secara kumulatif, ekspor sepanjang kuartal I-2016 tercatat sebesar US$33,59 miliar atau turun 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor sektor non migas pada periode yang sama juga tercatat turun 9,64 persen (yoy) menjadi US$30,14 miliar. Penurunan juga terjadi di sektor migas dengan mencatatkan capaian sebesar US$3,45 miliar dari US$5,71 miliar pada kuartal I 2015.
Porsi terbesar ekspor nonmigas sepanjang tiga bulan pertama tahun ini berasal dari ekspor lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$3,86 miliar atau turun 15,46 persen (year on year/yoy) dan bahan bakar mineral sebesar US$3,3 miliar atau turun 28,27 persen
"Secara akumulatif, total impor Januari-Maret 2016 tercatat US$31,94 miliar atau turun 13,05 persen year on year," ujar Suryamin.
Lebih lanjut, impor non migas sepanjang tiga bulan pertama 2016 tercatat sebesar US$28,06 mikiar atau turun 8,37 persen secara tahunan.
"Share terbesar dari mesin dan peralatan mekanik sebesar US$5,10 miliar dan dari mesin dan peralatan listrik sebesar US$3,54 miliar," ujarnya. (gir)