“Kerjasama tersebut mengindikasikan adanya keseriusan perusahaan Jerman untuk berinvestasi di Indonesia,” ujar Kepala BKPM Franky Sibarani dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (19/4).
Ia berharap dengan penandatanganan ini, proyek investasi tersebut dapat segera direalisasikan. Terlebih, menurutnya industri bernilai tambah seperti smelter menjadi prioritas yang didorong oleh pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Franky optimistis kunjungan pemerintah ke Jerman dapat mendorong pengusaha Jerman untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi mereka.
Sementara terkait dengan Pertemuan Presiden Jokowi dengan pimpinan perusahaan dari Jerman, Franky berharap hal itu dapat mendorong kepercayaan investor Jerman terhadap Indonesia.
Menurutnya, sebagian perusahaan Jerman yang bertemu Presiden sudah berinvestasi di Indonesia. Ketika bertemu Presiden, lanjutnya, perusahaan memaparkan rencana perluasan investasinya. Selain sektor smelter, potensi investasi lainnya yang mengemuka adalah sektor otomotif.
"Kami dari BKPM tentu saja akan menindaklanjuti hasil pertemuan terutama rencana investasi, baik baru maupun perluasan, agar dapat segera terealisasi. Salah satu langkah BKPM adalah membentuk tim marketing investasi untuk mengawal minat investasi dari Jerman," lanjutnya.
BKPM mencatat, investasi dari Jerman ke Indonesia dalam kurun 2010-2015 sebanyak 547 proyek investasi yang menyerap 38.382 tenaga kerja Indonesia. Nilai keseluruhan investasi tersebut mencapai angka US$552 juta atau Rp5,2 triliun.
Angka tersebut tergolong kecil jika dibandingkan dengan outward investment Jerman ke seluruh dunia yang berada di posisi ketiga. Dari data FDI Markets Financial Times, investasi Jerman di Indonesia kurang dari 1 persen dari keseluruhan investasi mereka. (gen)