“Perbankan bisa meningkatkan transaksi dalam bentuk pinjaman antar bank dengan dasar security apakah SBN, SBI namun kami harapkan agar PUAB jadi lebih aktif," ujar Agus di Gedung BI, Jakarta, Jumat (22/4).
Secara umum jika kekurangan dana, satu bank bisa meminjam ke bank lainnya. Namun, aktivitas ini terhitung masih rendah. Terlihat dari masih banyaknya bank yang mengandalkan BI untuk mendapatkan pinjaman atau yang biasa disebut lending facility (LF).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Analoginya, jarang anak SMA mau minjamin duitnya ke anak SMP," ujar Benny saat dihubungi.
Namun sebagai bank kategori BUKU II, Bank MNC merasa masih diuntungkan oleh loyalitas nasabah. Biasanya bank-bank kecil memiliki nasabah yang berkomitmen menempatkan dananya di bank tersebut dalam jangka panjang ketimbang di bank-bank besar sehingga mampu menopang likuiditas perusahaan.
Hal tersebut tercermin dari nilai core deposito yang mencapai 80 persen dari total deposito yang ada.
Kendati demikian Benny menilai kebijakan BI mengubah kiblat acuan tersebut akan mempercepat transmisi kebijakan moneter BI, sebab kebijakan acuan suku bunga itu didasari transaksi pasar uang antarbank.
Namun hal yang berbeda diungkapkan oleh Head of Treasury BCA Branko Windoe. Ia mengatakan sejauh ini memang sering ada ketimpangan likuiditas antara perbankan asing dan dalam negeri.
Kekurangan likuditas membuat perbankan dalam negeri menaikkan suku bunga deposito. Dengan adanya reverse repo rate, diharap likuiditas bank bisa terjaga.
“Bank-bank jadi tidak ada alasan lagi berdagang di pasar karena uangnya bisa secure (aman),” ungkapnya. (gen)