Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D. W. Martowardojo menilai kebijakan normalisasi moneter AS itu akan menambah sederet risiko perekonomian negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, selain yang berasal dari perlambatan ekonomi global, kejatuhan harga komoditas dan minyak, serta ancaman deflasi dunia.
"Kita juga melihat ini adalah sesuatu yang perlu kita juga waspadai, karna kondisi dunia ini masih melihat bagaimana AS apakah akan ada peningkatan bunga di AS," ujar Agus di kantornya, Jumat (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita melihat bahwa di kuartal I dalam banyak hal, ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan. Karena kalau kita mengikuti, itu keliatan bagaimana Indonesia sudah mencapai pertumbuhan ekonomi terendah dan kemudian membaik ke 5 persen di kuartal IV, sehingga setahun ekononomi kita tumbuh 4,8 persen," jelasnya.
Sementara dari sisi kurs, Mantan Menteri Keuangan itu mengatakan pasca kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Desember 2016 modal asing kembali masuk ke Indonesia dengan cukup deras. Di sisi lain, banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang melepas valasnya sehingga memberikan tekanan positif terhadap penguatan kembali Rupiah sekitar 3-4 persen.
Membaiknya profil risiko dalam sepekan terakhir, jelas Agus, antara lain dipicu oleh pernyataan otoritas moneter AS yang memberikan sinyal belum tentu akan menaikkan bunga dengan cepat. Selain itu, sikap Irak yang sepertinya akan setuju membatasi kapasitas produksi minyak, serta terjadinya pemogokan pekerja kilang di Kuwait, itu semua telah membuat harga minyak kembali membaik. (ags)