Kepala BKPM, Franky Sibarani mengatakan sebagian besar investasi disumbang dari sektor manufaktur yang mengambil porsi Rp101,4 triliun atau 69,21 persen dari total penanaman modal. Menurutnya, banyak proyek manufaktur bernilai besar yang dinilainya menjadi motor utama investasi kuartal I 2016.
"Memang pada triwulan pertama, ada beberapa realisasi investasi industri pengolahan yang memiliki nilai besar, kami contohkan realisasi pabrik kertas di Banten dan Sumatera Selatan yang memang kontribusinya cukup besar," jelas Franky di Jakarta, Senin (25/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami lihat, realisasi ini juga biasanya pengeluaran perusahaan dalam bentuk anggaran bagi tenaga kerja atau beli tanah. Hal itu juga terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sebesar 327.170 tenaga kerja atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 315.229 orang," ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Franky malah menilai positif karena ia menganggap realisasi investasi yang masuk lebih banyak mengarah ke industri padat modal.
Di samping itu, ia mengatakan realisasi investasi padat karya, yang selama ini berpusat di Jawa, juga tidak mengalami masalah karena nilainya juga meningkat. Karena menurut data yang dimilikinya, realisasi investasi padat karya kuartal I tahun ini meningkat 39 persen dari Rp 14,49 triliun ke angka Rp 20,21 triliun di periode yang sama tahun ini.
"Hal ini juga mengindikasikan adanya peningkatan realisasi investasi di luar Jawa, kami menilai hal itu sangat baik sepanjang memang ada tren yang mengarah ke situ," tuturnya.
Sebagai informasi, angka realisasi kuartal I tahun ini mencapai 24,6 persen dari target realisasi investasi yang dipasang sebesar Rp 594,8 triliun pada tahun 2016. Sementara itu, target realisasi investasi hingga akhir tahun tercatat meningkat 9,05 persen dibandingkan realisasi tahun 2015 sebesar Rp 545,4 triliun. (ags)