Manajemen Astra mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 7 persen menjadi 127 ribu unit. Kinerja tersebut selaras dengan penurunan penjualan mobil nasional sebesar 5 persen menjadi total 267 ribu unit.
Sementara penjualan produk sepeda motor Astra juga turun menjadi 1,1 juta unit yang mempengaruhi penurunan penjualan sepeda motor nasional sebesar 6 persen menjadi 1,5 juta unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup Astra turun 46 persen menjadi Rp641 miliar. Besarnya penurunan laba bersih Bank Permata menjadi penyebab kenaikan laba bersih PT Federal International Finance (FIF) dan PT Toyota Astra Financial Services yang tergabung di dalam grup, menjadi negatif.
Sementara laba bersih grup Astra dari bisnis alat berat dan pertambangan turun sebesar 55 persen menjadi Rp442 miliar.
Meski menorehkan kinerja yang kurang menggembirakan pada kuartal perdana tahun ini, Presiden Direktur Astra Internasional Prijono Sugiarto menegaskan perusahaannya tidak akan mengurangi alokasi belanja modal yang telah disiapkan sejak akhir tahun lalu. Astra menurutnya tetap akan mengucurkan belanja modal Rp13,6 triliun - Rp13,7 triliun.
"Dari belanja modal tersebut, Rp1,6 triliun akan dialokasikan untuk bisnis properti dan Rp1,3 triliun untuk infrastruktur," jelas Prijono di Jakarta, Rabu (27/4).
Rencana Obligasi
Gunawan Geniusahardja, Direktur Independen Astra menambahkan perusahaannya akan menerbitkan obligasi pada semester I 2016 ini. Astra menurutnya membutuhkan dana sekitar Rp40 triliun - Rp50 triliun untuk jasa keuangan pembiayaan roda dua dan roda empat.
“Kami percaya pembiayaan roda dua dan roda empat masih menjanjikan, jadi kami masih butuh dana Rp40 triliun sampai Rp50 triliun untuk me-manage itu," tuturnya.
Menurutnya, obligasi adalah instrumen yang tepat untuk mendapatkan pembiayaan yang cukup baik. Dengan begitu, penerbitan obligasi ini diharapkan akan mendapatkan pembiayaan sebesar 20 sampai 50 persen.