Dwi menyebut Pertamina akan berupaya mendatangkan minyak dari luar Papua dengan mencari biaya suplai yang lebih efisien. Sebelumnya, Pertamina telah mencoba memasok minyak mentah untuk kilang Kasim dari Lapangan Mudi di Blok Tuban yang dioperatori Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ), namun masih juga tidak efisien.
“Kemampuan suplainya dari sana kecil sekali, sekitar 30 ribu barel. Apalagi kapalnya shift to shift, sehingga kalau didatangkan langsung lalu diolah, itu menjadi tidak efisien. Kalau mau lebih efisien, kami harus bangun storage dulu di darat," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kami butuh dermaga, lalu storage untuk menampung pada saat crude datang. Kapasitasnya harus sesuai dengan kapasitas kapal yang menjemputnya. Lalu juga butuh tangki untuk menampung bahan baku dan fasilitas untuk unloading arm," jelasnya.
Menurut Dwi, kilang Kasim kini hanya bisa memproduksi BBM 7 ribu bph, padahal kapasitas maksimal bisa mencapai 10 ribu bph. Akibatnya pasokan BBM dari kilang Kasim hanya bisa memenuhi 12 persen pasokan kebutuhan Papua. Padahal, seharusnya kilang ini bisa mencukupi 30 persen kebutuhan BBM Papua.
Sebagai informasi, kapasitas terpasang seluruh kilang Pertamina saat ini berjumlah 853 ribu barrel per hari, atau 81,78 persen dari kapasitas total sebesar 1,043 juta barrel per hari. Padahal, kebutuhan minyak Indonesia tercatat sebesar 1,57 juta barrel per hari, sehingga BBM produksi dalam negeri baru memenuhi 54,05 persen dati kebutuhan. (gen)