Suwandi Wiratno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengatakan, bisnis multifinance relatif datar sampai kuartal II 2016. Masyarakatnya, ia menilai, cenderung menunggu (wait and see) terutama terkait kepastian penurunan bunga kredit.
"Saya tidak tahu perilaku konsumen seperti apa. Bunga kredit mau turun, tetapi belum turun juga. Biaya dana relatif sama. Saya belum melihat ada perbaikan sampai semester pertama ini," ujarnya kepada CNN Indonesia, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, dua lini bisnis tersebut di atas merupakan kontribusi utama dalam bisnis pembiayaan. Per 31 Maret 2016, outstanding pembiayaan untuk sewa guna usaha mencapai Rp103,10 triliun, sedangkan lini bisnis pembiayaan konsumen tercatat sebesar Rp249,78 triliun.
Sewa guna usaha tercatat turun 9,73 persen jika dibandingkan kuartal I 2015 yang sebesar Rp114,22 triliun, sementara pembiayaan konsumen relatif stagnan. Adapun, porsi bisnis multifinance lainnya, yakni anjak piutang dan kartu kredit relatif mini masing-masing Rp11,39 triliun dan Rp112 miliar.
Optimisme ini, ia menambahkan, didorong oleh realisasi pertumbuhan sektor infrastruktur dan belanja pemerintah, termasuk juga dampak dari penurunan bunga acuan.
Hingga akhir tahun lalu, total pembiayaan yang disalurkan industri mencapai Rp364,40 triliun. Diharapkan, angkanya meningkat menjadi Rp383 triliun - Rp400 triliun sampai akhir tahun 2016. (bir)