Direktur Keuangan Tower Bersama Helmy Yusman Santoso mengatakan perusahaan telah menyampaikan rencana Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi berdenominasi rupiah tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Meski mengaku belum menerima pernyataan efektif dari OJK, manajemen telah mendaftarkan rencana tersebut ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai penerbitan awal Rp1 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Helmy menyatakan manajemen belum memutuskan pinjaman darimana yang akan direstrukturisasi. Pasalnya, ia mengaku emiten penyewaan menara milik Grup Saratoga tidak memiliki utang jatuh tempo di tahun ini.
Ia menambahkan jika dana internal tidak cukup, perseroan bisa memakai fasilitas pinjaman siaga yang sudah ada senilai US$250 juta. Saldo pinjaman itu merupakan sisa pinjaman sindikasi US$675 juta yang jatuh tempo pada 2020.
Dana hasil penerbitan notes akan dipakai untuk keperluan investasi dalam bentuk pemberian pinjaman dan penyertaan modal pada anak usaha yang dimiliki penuh, yakni Tower Bersama Singapore Pte Ltd (TBS). Selanjutnya, TBS akan memberikan fasilitas pinjaman antarperusahaan kepada TBIG.
"Kami akan mengeluarkan obligasi rupiah dulu, baru menerbitkan notes. Kemungkian besar notes tidak kami terbitkan tahun ini," kata Helmy.