Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina menjelaskan sebelumnya perusahaan selalu merugi Rp4 triliun per tahun dari bisnis elpiji untuk keperluan masyarakat. Penyebab utamanya tak lain karena menjual elpiji ukuran 12 kg dibawah harga keekonomian.
“Tetapi kami mulai mencatat laba sejak September 2015, seiring penyesuaian harga yang dilakukan bertahap hingga sesuai keekonomian sejak tahun lalu. Namun penyesuian harga elpiji 12 kg juga berdampak pada beralihnya sebagian konsumen ke elpiji 3 kg karena selisih antara keduanya hampir Rp7 ribu per kg,” kata Wianda, Jumat (13/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari Purnomo, Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan ikut mendorong penjualan elpiji Pertamina. Pasalnya kebutuhan energi masyarakat seiring waktu akan terus tumbuh, makin lama pemakaiannya makin tinggi.
“Pasarnya terus meningkat. Sama saja seperti bahan makanan bahan pokok setiap tahun meningkat," kata Hari. (gen)