NIlai NPI tersebut anjlok dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatatkan surplus sebesar US$5,1 miliar, maupun dibandingkan surplus triwulan yang sama tahun sebelumnya U$1,3 miliar.
Neraca transaksi berjalan yang masih defisit serta menyusutnya surplus neraca transaksi modal dan keuangan menjadi penyebab defisit NPI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial pada triwulan yang sama mencatatkan surplus sebesar US$4,2 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus kuartal sebelumnya US$9,8 miliar dan surplus Januari-Maret 2015 yang sebesar US$ 5 miliar.
Surplus neraca nonmigas tercatat sebesar US$3,28 miliar, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang positif US$2,9 miliar.
"Di sisi nonmigas sebenarnya kita ada perbaikan," ujar Endy di Kantor BI, Jakarta, Jumat (13/5).
Sebaliknya, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$800 juta, turun dibandingkan periode sebelumnya yang minus US$ 1 miliar. Endy mengatakan, melemahnya permintaan global dan anjloknya harga minyak mentah dunia menjadi faktor yang melemahkan ekspor dan impor minyak dan gas.
Selain itu, penurunan CAD juga disumbang oleh berkurangnya defisit neraca jasa mengikuti turunnya impor barang. Apabila kuartal sebelumnya defisit neraca jasa sebesar US$1,7 miliar, maka pada Januari-Maret 2016 menjadi minus US$1,1 miliar.
"Karena impor turun, maka biaya-biaya pengangkutan kapal (freight) akan turun," ujarnya.
Dari sisi transaksi modal dan finansial, Endy menjelaskan menurunnya surplus dipengaruhi oleh melemahnya investasi langsung dan portofolio serta investasi lainnya.
Investasi langsung pada kuartal I 2016 melemah seiring dengan menurunnya arus masuk modal asing. Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat melambat, dari 6,9 persen secara tahunan pada kuartal IV 2015 menjadi 5,57 persen. Sementara arus keluar investasi langsung dari sisi aset relatif stabil.
Endy menambahkan, penurunan arus masuk kewajiban investasi langsung terjadi pada sektor nonmigas dan migas seiring turunnya harga minyak dan pembayaran laba yang ditanam.
Sedangkan surplus neto investasi portofolio tercatat lebih rendah dibanding kuartal IV 2015, dipengaruhi oleh arus keluar investasi portofolio.
Lebih lanjut, investasi lainnya mencatatkan defisit terutama karena neto arus keluar investasi lainnya di sisi kewajiban. Kewajiban investasi lainnya mencatat defisit US$2,4 miliar terutama karena sektor bank tercatat melakukan pembayaran pinjaman luar negeri dan terjadinya arus keluar simpanan non residen perbankan domestik.
"Investasi lainnya ini adalah utang-utang, defisit karena kita lebih banyak membayar utang dibandingkan menarik utang. Ada kegiatan ekonomi yang melambat menyebabkan berkurangnya penarikan utang," ujarnya. (ags/gen)