Berdasarkan catatan tersebut, sebagian besar petinggi The Fed ingin melihat lebih lanjut tanda-tanda pemulihan ekonomi di kuartal II 2016 dan tingkat pengangguran serta inflasi yang terjaga sebelum menaikan suku bunga acuannya.
“Sebagian besar peserta menilai jika data yang akan datang konsisten dengan pemulihan ekonomi di kuartal II, kondisi pasar tenaga kerja terus menguat, dan tingkat inflasi mendekati target komite 2 persen maka komite layak untuk menaikkan target kisaran FFR pada Juni,” kata Brian F. Madigan, Sekretaris FOMC dalam notulensinya, dikutip Kamis (19/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam catatan itu, para pengambil kebijakan juga semakin yakin tingkat inflasi Amerika akan naik mendekati target 2 persen. Selain itu, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global juga berkurang.
Namun, anggota dewan yang lain juga berargumen bahwa perbaikan pertumbuhan lapangan kerja bisa menjadi tanda membaiknya perekonomian Negeri Paman Sam.
“Sebagian peserta merujuk pada perbaikan pasar tenaga kerja stabil sebagai indikator bahwa percepatan kegiatan ekonomi tidak menurun,” ujarnya.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D. W. Martowardojo sebelumnya menilai kebijakan normalisasi moneter Amerika akan menambah sederet risiko perekonomian negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, selain yang berasal dari perlambatan ekonomi global, kejatuhan harga komoditas dan minyak, serta ancaman deflasi dunia. Oleh karenanya, BI akan berhati-hati dalam mengambil kebijakan moneter.
"Kami juga melihat (kenaikan FFR) ini adalah sesuatu yang perlu kita juga waspadai, karena kondisi dunia ini masih melihat bagaimana Amerika apakah akan ada peningkatan bunga disana,” ujar Agus di kantornya beberapa waktu lalu.
Hari ini, rencananya BI akan kembali mengumumkan suku bunga acuan (BI rate) dan suku bunga terkait usai melakukan Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar sejak kemarin. (gen)