"Ikatan sesama anggota OKI selama puluhan tahun ini dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan ekspor nasional," ujar Tjahya Widayanti, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag dalam siaran pers yang diterima, Minggu (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Produk yang ditampilkan, antara lain baju dan alas kaki berbahan serat bambu, perhiasan dari mutiara, serta produk makanan dan minuman halal dari rempah-rempah, produk-produk minyak sawit, kopi arabika, bumbu masak, makanan ringan, termasuk minuman vitamin C.
Tjahya menuturkan, selama ini, Indonesia merupakan negara pemasok ke-18 di Arab Saudi dengan produk-produk seperti kendaraan bermotor, palm oil, ban, saus dan bumbu masak, hingga arang dari kayu.
Arab Saudi juga banyak mengimpor dari negara-negara di luar anggota OKI, seperti China, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Republik Korea.
"Ekspor Indonesia ke Arab Saudi selama lima tahun terakhir mengalami tren positif dengan pertumbuhan sebesar 9,7 persen, dari 1,43 miliar dolar AS pada 2011 menjadi 2,06 miliar dolar AS pada 2015. Diharapkan terus meningkat," ujarnya.
Tjahya yakin bahwa lewat promosi yang gencar dilakukan, ekspor Indonesia ke negara-negara anggota OKI dapat ditingkatkan.
OKI terbentuk setelah para pemimpin sejumlah negara Islam menyepakati Deklarasi Rabat di Maroko pada September 1969. OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim yang berada di kawasan Asia dan Afrika.
OKI bertujuan meningkatkan solidaritas Islam dan kerja sama ekonomi di antara negara anggota, mengoordinasikan kerja sama antarnegara anggota, serta mendukung perdamaian dan keamanan internasional. (bir)