“Kami lihat dari sisi prospeknya, di sektor properti itu masih sangat tinggi permintaannya. Dia masih punya prospek untuk kita tingkatkan lagi pertumbuhannya," kata Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto di Jakarta, Rabu (25/5).
Erwin mengatakan dengan membantu pengusaha properti meningkatkan penjualannya, bank sentral juga membidik efek domino yang lebih luas kepada para pengusaha di sektor lain. Pasalnya pembangunan perumahan sudah pasti mendongkrak penjualan semen, menyerap tenaga kerja, hingga meningkatkan penjualan perkakas dan perangkat elektronik rumah tangga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan lainnya, pelonggaran kebijakan makroprudensial tersebut bertujuan untuk mendongkrak penyaluran kredit bank di kuartal berikutnya.
“Kami lihat dari sisi NPL-nya, itu masih relatif rendah. Jadi kalo kita tingkatkan masih ada harapan," kata Erwin.
Sebelum mengeluarkan kebijakan pelonggaran pembiayaan perumahan, Erwin mengatakan BI terus berdiskusi dengan Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) dan Asosiasi terkait guna memperoleh masukan.
Menurutnya kebijakan pelonggaran juga tetap akan diseimbangkan dengan pengawasan kebijakan dengan prinsip kehati-hatian.
“Sebelum mengeluarkan aturan, kami berdiskusi dengan bank dan Perbanas, sehingga bisa mendapat masukan pengembangan dari sisi bank dan juga NPL-nya," katanya. (gen)