Tahun lalu, pemerintah memasang target lifting minyak 825 ribu barel per hari (bph), namun hanya terealisasi 777,56 ribu bph. Sementara dalam APBN 2016 target lifting ditetapkan 830 ribu bph, namun dalam RAPBNP tahun yang sama targetnya diusulkan turun jadi 810 ribu bph.
"Volume memang turun tapikan lifting-nya tidak beda jauh, tidak sampai 3 persen kan bedanya. Tidak mencapai target memang tapi lebih baik bila dibandingkan tahun lalu, ini relatif ada perbaikan," ungkap Sudirman usai rapat bersama Badan Anggaran DPR, Senin (6/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kecenderungan lifting kita berkurang dari waktu ke waktu karena permasalahan sumur, semakin tua itu sumurnya. Sebagai sumur tua pasti efisiensinya tidak sebaik ketika dulu. Kenapa bisa begitu? Karena dua tahun terakhir investasi di hulu memang rendah karena harga minyak dunia turun juga," papar Sudirman.
“Kami akan membentuk komite eksplorasi yang dapat mendorong eksplorasi agar dapat lebih progresif lagi," tegas Sudirman.
Namun menurut mantan bos PT Pindad (Persero), solusi eksplorasi ini merupakan solusi jangka panjang karena dampak dari eksplorasi cukup lama. Sedangkan solusi jangka pendek belum dapat dilakukan Kementerian ESDM, karena terkait dengan insentif perpajakan yang berhubungan dengan persetujuan Kementerian Keuangan. (gen)