Analis PT First Asia Capital David Sutyanto memprediksi IHSG berada dalam rentang support 4.910 hingga resisten di level 4.945. Rendahnya risiko pasar saham global dan kenaikan harga panjang (rally) harga sejumlah komoditas tambang termasuk harga minyak mentah akan berimbas positif pada pergerakan harga saham sektoral yang berbasiskan komoditas.
Sementara, Wall Street tadi malam melanjutkan kenaikan. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 0,4 persen dan 0,3 persen. Pasar digerakkan dengan optimisme bank sentral AS yang akan melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, bursa saham Asia bergerak bervariasi dipicu sentimen data perdagangan China pada Mei lalu. Data ekspor impor China pada Mei lalu mengindikasikan perekonomian negara tersebut bergerak stabil. Di mana perekonomian ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik.
"Kemudian Ekspor China pada Mei lalu turun 4,1 persen tidak jauh dari perkiraan turun 4 persen," paparnya.
Adapun, IHSG ditutup melemah kemarin ke level 4.916. Pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) di tengah meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan domestik.
Seperti diketahui, Bank Dunia kemarin merevisi turun outlook pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,4 persen dari proyeksi sebelumnya 2,9 persen. Sedangkan pemerintah dan DPR dalam revisi APBN 2016 menyepakati penurunan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini menjadi 5,2 persen dari target sebelumnya 5,3 persen.
Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya memprediksi IHSG akan berada dalam rentang support 4.877 dan resisten 4.980. Menurutnya, saat ini support level 4.877 terlihat cukup kuat jika memang harus diuji, kemudian pola naik jangka pendek telah terbentuk.
"Saat koreksi wajar dapat dimanfaatkan oleh investor sebagai momentum untuk melakukan akumulasi beli," terang William dalam riset. (gir)