Astrid Swastika, Corporate Secretary SMI menjelaskan, dengan pembiayaan Rp30,1 triliun, nilai proyek yang bisa didanai mencapai Rp118,7 triliun. Dengan demikian, pembiayaan yang diberikan memberikan efek berganda berupa kenaikan nilai proyek sebesar 3,94 kali.
Mengingat kebutuhan pembiayaan infrastruktur begitu besar, kata Astrid, perseroan menyusun berbagai langkah strategis guna meningkatkan pendanaan. Antara lain dengan memanfaatkan sumber dana dari lembaga bilateral dan multilateral, pasar modal serta dana pensiun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Astrid, SMI telah memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank Pembangunan Perancis (AFD) hingga US$100 juta untuk membiayai proyek-proyek energi terbarukan dan perubahan iklim. Selain itu, perseroan juga memperoleh hibah sebesar US$5 juta serta program bantuan teknis senilai €400 ribu dari AFD.
Pada Maret lalu, lanjut Astrid, SMI telah menerbitkan surat utang jangka pendek (Medium Term Note/ MTN) sebesar US$300 juta guna membiayai beberapa proyek infrastruktur. Adapun jumlah Pokok MTN tahap pertama yang diterbitkan senilai US$ 100 juta dengan jangka waktu dua tahun.
Pada bulan yang sama, PT SMI juga menandatangani perjanjian kredit dengan PT Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (BTMU) untuk mendapatkan fasilitas kredit Term Loan Facility sebesar US$ 100 juta untuk jangka waktu dua tahun. Fasilitas pinjaman ini juga ditujukan untuk menjembatani kebutuhan SMI dalam membiayai proyek-proyek infrastruktur.
Selain dari usaha penghimpunan dana, SMI juga mempersiapkan Unit Usaha Syariah (UUS). Unit usaha ini direncanakan beroperasi pada Semester II 2016 dan akan siap memperkaya skema produk pembiayaan bagi proyek pembangunan infrastruktur sesuai dengan prinsip syariah.
"Hal ini juga dilakukan dalam rangka mendukung upaya Pemerintah memaksimalkan sumber-sumber dana lain seperti dana-dana syariah dari dalam dan luar negeri yang bertenor relatif panjanguntuk pembangunan infrastruktur," kata Astrid.