Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir mengatakan, target kapasitas pembangkit listrik sebesar 20 ribu MW tersebut dicanangkan pada 7-8 tahun silam. Saat ini, perseroan telah memiliki pembangkit listrik hingga 2.600 MW.
Untuk membangun pembangkit listrik, lanjutnya, investasi yang diperlukan mencapai US$1,5 juta hingga US$2 juta setiap 1 MW. Sehingga, total kebutuhan dana untuk mewujudkan target 20 ribu MW itu mencapai US$40 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, lanjutnya, perusahaan sektor kelistrikan yang telah menggelar penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), adalah PT Cikarang Listrindo. Sayangnya, Garibaldi enggan mengungkapkan kapan Adaro Power bakal melantai di bursa saham.
Terkait target pembangkit listrik berkapasitas 20 ribu MW, Garibaldi menyatakan hal itu bisa dicapai dengan cara organik dan anorganik. Cara organik adalah dengan cara membangun sendiri, sedangkan skema anorganik yaitu dengan mencaplok kepemilikan perusahaan lain.
"Kami bisa mencapai target secara organik atau anorganik. Anorganik juga tidak harus mayoritas," jelasnya.
Garibaldi mengungkapkan, usai financial close proyek PLTU Batang sebesar 2x1.000 MW itu, perseroan mengincar tiga proyek pembangkit listrik dengan kapasitas 3 ribu MW.
Adapun tiga proyek pendukung PLTU 35 ribu MW itu antara lain PLTU Tanjung Power Indonesia Kalimantan Selatan berkapasitas 2x100 MW, PLTU Jawa 1 berkapasitas 2x800 MW, dan PLTU Sumatra Selatan 9 dan 10 dengan kapasitas 2x600 MW. Investasi masing-masing senilai US$400 juta, US$3,5 miliar, dan US$2,5 miliar. (gen)