Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin mengatakan, sepatu Equator ini merupakan implementasi dari program national branding. Yaitu, program dorongan Kemenperin kepada pelaku IKM untuk membuat produk dengan merek yang berpotensi mendunia.
Dengan program ini, Euis berharap, nantinya merek Equator bisa disejajarkan dengan kualitas produk negara Indonesia ke depannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, pengerjaan sepatu Equator ini dilakukan oleh Kemenperin dengan bermitra bersama 60 IKM yang dinilai berkualitas. Operasional sepatu ini sendiri akan dilakukan secara profesional dan dikerjakan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) berpengalaman.
Euis melanjutkan, akan lebih baik jika ada investor swasta yang bisa ikut menanamkan modalnya untuk proyek ini. Namun sayangnya, belum ada investor yang berminat karena mereka belum tahu resiko bisnis sepatu ini.
Awalnya Kemenperin juga akan meluncurkan dua merek sepatu national branding lain yang diberi nama Kakatua dan Krakatau. Namun, peluncuran dua produk ini masih belum bisa dilaksanakan karena masih mencari merek yang sesuai.
"Tadinya kami ingin menggunakan merek Komodo, cuma sudah pernah dipakai oleh negara lain. Kami juga terpikir nama Anoa, tetapi itu juga sudah didaftarkan sama perusahaan lain. Meski perusahaan itu mendaftarkan nama Anoa, tetapi sampai sekarang produknya bahkan belum terlihat di pasaran," keluhnya.
Ia berkaca pada pembentukan national branding bagi produk fesyen yang diberi nama Reneo tiga tahun lalu. Di atas kertas, tambahnya, konsep itu terbilang menarik. Namun, alpanya pendampingan Kemenperin menjadikan program itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
"Membuat produk national branding itu tidak mudah. Untuk produk sepatu saja, itu perlu kami bangun dalam dua tahun. Studinya saja sudah setahunan. Setahun sisanya kami gunakan untuk produksi barang agar sesuai dengan konsep. Memang tak mudah, tetapi ini harus dilakukan," pungkas Euis. (bir)