"Target kami hingga akhir tahun nanti bisa 45 persen. Jika lihat data Juni ini baru sekitar 41 persen," ujar Endy Abdurrahman, Direktur Utama Bank Muamalat usai penandatanganan nota kesepahaman bersama organisasi Islam Nahdlatul Ulama di Jakarta, Senin (13/6).
Pembiayaan dari CASA ditingkatkan agar porsi dana mahal, seperti deposito dalam komponen Dana Pihak Ketiga (DPK) dapat berkurang. Dengan demikian, beban biaya dana perseroan juga akan menurun, sehingga menambah tingkat efisiensi perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu cara memperbesar porsi CASA tersebut, kata Endy, dengan memaksimalkalkan potensi dana murah di berbagai instansi dan organisasi Islam yang selama ini belum termanfaatkan.
Endy menjelaskan, kerja sama dengan tiga organisasi Islam tersebut bukan semata-mata untuk meningkatkan kinerja Bank Muamalat. Namun, untuk pengembangan industri keuangan syariah secara nasional.
Menurut dia, secara individu atau secara organisasi, muslim perlu mempercayakan jasa dan layanan produk keuangannya ke syariah, bukan hanya ke konvensional.
"Kami ingin gerakan kembali ekonomi dengan basis islam. Pemerintah sudah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), kami sangat menunggu rencana aksi Komite tersebut," imbuh Endy.
Dalam kemitraan dengan NU tersebut, Muamalat juga memberikan pembiayaan sebesar Rp1 triliun. Dana itu, utamanya akan digunakan untuk pembiayaan kegiatan bidang pendidikan dan kesehatan NU. Namun, Bank Muamalat dan NU akan melakukan pembahasan selanjutnya untuk merinci jenis kegiatan apa saja yang akan dibiayai oleh Muamalat.
Yang pasti, NU akan bekerja sama dengan penempatan dana di Muamalat, pemanfaatan fasilitas perbankan Muamalat, seperti akun virtual, sistem pengelolaan kas, sistem pembayaran Muamalat, Dana Pensiun Lembaga Keuangan Bank Muamalat, pembayaran melalui payroll Bank Muamalat dan co-branding produk tabungan. (bir)