Selain untuk sarana lindung nilai (hedging), IGBF dikembangkan dalam rangka pengembangan pasar surat utang pemerintah dan meningkatkan kapitalisasi di pasar modal.
“Targetnya semester II (IGBF) bisa diluncurkan. Kami masih dalam proses penyusunan (aturan) dengan Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan, Selasa (21/6).
Nicky mengungkapkan, varian obligasi negara yang akan diprioritaskan dalam perdagangan IGBF nanti adalah yang memiliki kupon tetap (fix rate/FR), dengan jangka waktu jatuh tempo agak panjang. Dengan demikian, tidak semua seri obligasi berkupun tetap bisa menjadi basis perdagangan IGBF.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, obligasi negara FR dipilih karena varian surat utang ini banyak diminati investor dan paling likuid di pasar sekunder. "Apalagi banyak investor institusi yang memiliki kepemilikan di situ. Jadi nilainya bisa besar. IGBF kan lebih banyak untuk hedging institusi yang membutuhkan,” katanya.
Pada awal Februari lalu, BEI telah meluncurkan produk derivatif berbasis saham, yakni Kontrak Berjangka Indeks Efek LQ-45 (LQ-45 futures) sebagai alternatif investasi di tengah pasar yang sedang bergerak fluktuatif.