Thomas Buberl, Deputy CEO AXA menuturkan, peran asuransi kesehatan mengalami perubahan di masa depan, tidak hanya sebatas fokus pada penyembuhan saja, melainkan juga fokus pada pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan.
Salah satu yang menjadi perhatian AXA pada saat ini adalah budaya merokok, yang dinilai Thomas sebagai ancaman terbesar bagi kesehatan masyarat di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, tidak masuk akal jika AXA terus mendukung investasi di industri tembakau mengingat konsumsi tembakau merupakan penyebab utama dari penyakit tidak menular jangka panjang (NCD), seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit saluran pernapasan kronis. Rata-rata per tahun, ucapnya, tembakau membunuh sekitar 6 juta orang dan diprediksi akan tumbuh menjadi 8 juta pada tahun 2030.
Thomas merinci, aset-aset AXA Group yang akan dilepas dari industri tembakau antara lain berupa saham senilai €200 juta di perusahaan tembakau. Selain itu, AXA juga akan menghentikan investasi barunya di obligasi perusahaan dari industri rokok dan secara bertahap menurunkan saham kepemilikan obligasi yang ada, yang saat ini nilainya sekitar €1,6 miliar.
"Keputusan ini tidak menguntungkan bagi kami, tetapi alasan untuk melepas saham ini sangat jelas: dampak yang diakibatkan oleh tembakau sangat tragis dan dampak ekonominya juga besar," tutur Thomas Buberl.
AXA Group merupakan perusahaan asuransi dan manajemen aset berskala internasional, dengan jumlah karyawan 166 ribu orang dan total pengelolaan aset mencapai €1.363 triliun per 31 Desember 2014.
Di Indonesia, AXA Group bermitra dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan membentuk perusahaan asuransi patungan AXA Mandiri. (ags)