Rachmad Hardadi, Direktur Pengolahan Pertamina menerangkan, selama ini, perusahaan membutuhkan waktu 2,5 bulan dari pembelian minyak hingga minyak tersebut bisa benar-benar diolah. Lamanya waktu ini akan sangat merugikan perusahaan jika harga minyak mentah anjlok secara signifikan dalam kurun waktu tersebut.
Karenanya, tangki timbun dibutuhkan untuk mengurangi jeda waktu antara pembelian minyak mentah hingga pengolahan. Implikasinya, resiko profitabilitas mengolah BBM pun bisa diperkecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, persoalannya, pembangunan tangki timbun itu sendiri tidak bisa dilaksanakan secara cepat, mengingat pembangunan infrastrukturnya membutuhkan waktu 1,5 hingga dua tahun. Apalagi menurutnya, perusahaan tak cukup hanya membangun satu tangki timbun saja.
Agar isi tangki timbun tetap rimbun, rencananya Pertamina akan mencari mitra yang berminat menyalurkan minyak mentah langsung ke tangki-tangki itu. Namun sayangnya, ia masih enggan menyebut nilai investasi serta skema kerjasama dengan calon mitra potensial di dalam proyek tangki timbun ini.
"Kalau crude domestik mungkin bisa pasok 60 persen dari kebutuhan kilang, tinggal mencari 40 persen sisanya. Namun untuk skema kerjasama seperti apa, sayang belum bisa saya umumkan," ucapnya.
Sebagai informasi, saat ini Pertamina memiliki enam kilang beroperasi dengan kapasitas terpasang berjumlah 853 ribu barel per hari. Angka itu tercatat mencapai 81,78 persen dari kapasitas total sebesar 1,043 juta barel per hari.
Sedangkan, kapasitas seluruh kilang Pertamina akan mencapai 2 juta barel per hari pada tahun 2023 seiring dengan adanya penambahan kapasitas kilang Cilacap, Dumai, Balongan, dan Balikpapan dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan dua tambahan kilang baru di Tuban, Jawa Timur dan Bontang, Kalimantan Timur. (bir/gen)