Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David E. Sumual mengatakan permintaan kredit dan pinjaman perbankan tahun ini tidak sekuat permintaan dua tahun lalu.
Di mana pada saat itu harga minyak dunia dan komoditas andalan ekspor masih relatif baik, ditambah kondisi perekonomian China dan negara-negara tujuan ekspor lain yang masih stabil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga diungkapkan oleh Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede, ia menyebut permintaan kredit di akhir semester I tidak akan banyak menunjukan perubahan dari angka April 2016 yakni di kisaran 8 persen (year on year). Hal itu masih berpotensi terjadi meski Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan (BI rate) sebanyak 100 basis poin sejak awal tahun.
Selain itu, masih lemahnya ekonomi domestik atau konsumsi rumah tangga menyebabkan korporasi cenderung menurunkan rencana belanja modalnya.
Dari sisi penawaran, perbankan juga cenderung masih berhati-hari dalam penyaluran kredit mengingat tren rasio kredit bermasalah (NPL) mengalami kecenderungan naik. Hal tersebut ditandai dengan naiknya rasio dana yang disisihkan perbankan untuk mengantisipasi kredit macet (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai/CKPN).
Membaik di Semester II
Kendati demikian David dan Josua sama-sama memprediksi pertumbuhan kredit akan mulai terasa di paruh kedua tahun ini. Permintaan kredit khususnya untuk infrastruktur dan properti diprediksi makin meningkat usai pelonggaran kebijakan makroprudensial oleh Bank Indonesia (BI) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 telah diketok.
"Harapannya yang tumbuh ke depan adalah kredit untuk proyek pemerintah seperti infrastruktur," jelas David.
Untuk mengantisipasi penurunan pendapatan, perbankan harus mengubah fokusnya dalam menjalankan strategi bisnis. Seperti meningkatkan bisnis dari segmen konsumer seperti bancassurance, pengelolaan kekayaan (wealth management), transaction banking, cash management hingga pembiayaan perdagangan (trade finance) yang bisa mendatangkan pendapatan berbasis komisi.
"Alternatif lain bank harus menggenjot pendapatan dari bisnis lain yang belum digarap secara optimal oleh perbankan," kata David. (gen)