Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menjelaskan permintaan yang masih lemah menyebabkan perusahaan tambang tidak terpacu untuk memproduksi batubara. Hal itu diperparah dengan anjloknya harga batubara.
Sebagai informasi, Harga Batubara Acuan (HBA) per Juni 2016 tercatat sebesar US$51,81 per ton, atau lebih rendah 13,06 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar US$59,59 per ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, penurunan permintaan itu juga terlihat dari volume ekspor batubara yang menurun secara tahunan (year-on-year) pada semester I 2016. Menurut data yang dimilikinya, ekspor pada paruh pertama 2016 tercatat sebesar 79,98 juta ton atau lebih rendah 19,79 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 99,72 juta ton.
Maka dari itu, Bambang berharap produksi batubara Indonesia bisa lebih banyak lagi diserap para penggunanya di dalam negeri agar tak terpengaruh fluktuasi harga dan permintaan global.
Kejar Target
Lebih lanjut, ia masih berharap produksi hingga akhir tahun bisa mencapai target sebesar 419 juta ton meski realisasi produksi hingga pertengahan tahun ini baru mencapai 24,05 persen. Ia yakin, kewajiban pengalokasian batubara dalam negeri (Domestic Market Obligation) akan mengerek produksi.
Di samping itu, ia juga optimistis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) minerba juga bisa sesuai target meskipun dengan kondisi yang masih melesu. Sebagai informasi, PNBP minerba per Juni 2016 tercatat sebesar Rp12,28 triliun atau lebih kecil 44,6 persen dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya Rp22,17 triliun.
"Dengan angka demikian, menurut kami lumayan. Artinya masih ada potensi untuk mendekati target di akhir tahun sebesar Rp30 triliun," tutur Bambang.