Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman mengatakan, angka itu merupakan angka penghematan minimal dengan mempertimbangkan rencana-rencana investasi Pertamina yang serupa dengan rencana investasi PGN. Dengan demikian, belanja modal (capital expenditure) kedua perusahaan di periode mendatang bisa lebih kecil dibanding tahun ini.
Sebagai informasi, pada tahun ini Pertamina menganggarkan belanja modal US$366,3 juta untuk pemanfaatan gas, atau 6,9 persen dari total investasi Pertamina sebesar US$5,31 miliar. Sementara itu, belanja modal PGN tahun ini berada di angka US$500 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan ada beberapa investasi yang bisa diselaraskan di antaranya pipa gas Duri-Dumai yang diperuntukkan bagi kilang Pertamina di Dumai dan pasokan ke industri pengolahan kelapa sawit. Di samping itu, Floating Storage Regasification Unit (FSRU) yang dimiliki PGN dikatakannya juga bisa dioptimalkan bersama Pertamina, mengingat perusahaannya juga membutuhkan banyak akses gas ke kilang-kilang minyak.
Melengkapi ucapan Arief, Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kemeterian BUMN, Edwin Abdullah mengatakan, menghilangkan duplikasi investasi antara Pertamina dan PGN adalah hal prioritas setelah holding ini terbentuk. Untuk memetakan sinergi investasi tersebut, bahkan telah dibentuk lima Kelompok Kerja (Pokja) yang masing-masing terdiri dari pihak PGN dan Pertamina.
Menurut Edwin, holding energi adalah holding BUMN pertama yang akan dibentuk tahun ini dan kini Peraturan Pemerintah (PP) terkait hal itu tengah menunggu persetujuan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenhukham). "Bu Menteri BUMN juga sudah meneken paraf pertama peraturannya," ujarnya. (gir/gen)