Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan, sebetulnya, kas internal Pertamina masih cukup untuk membiayai beberapa proyek investasi Pertamina. Namun, kalau biaya ekspansi tersebut tidak mencukupi, dana hasil obligasinya akan digunakan sebagai tambahan.
"Karena, kami lihat sekarang di sisi hulu, sedang ada uji tuntas (due dilligence) aset-aset migas di blok-blok yang rencananya akan kami kelola di Rusia dan negara lainnya. Mungkin, kalau dananya tinggi, perlu dana tambahan," ujarnya, Senin (25/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau misalnya kami butuh aset yang bagus, agak besar sedikit, nah diambil untuk itu dan obligasi salah satu di antaranya. Masih ada instrumen lain," jelas dia.
Selain Balikpapan, Pertamina berencana melakukan empat RDMP di kilang-kilang perusahaan yang terletak di Cilacap, Balongan, dan Dumai yang rencananya bermitra dengan Saudi Aramco. RDMP Balikpapan sendiri rencananya akan menelan dana sebesar US$5,5 miliar.
"Tapi kami belum tahu dana tax amnesty itu akan dimasukkan ke instrumen apa demi mendanai proyek kami. Kami harap sih sifatnya perpetual karena ini proyek jangka panjang, bukan sekadar investasi yang masuk dan keluar lagi," pungkasnya. (bir)