BNI misalnya, di tengah lesunya permintaan kredit di industri, bank berlogo 46 itu mampu membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp357,2 triliun naik 23,7 persen dari semester I tahun lalu yang sebesar Rp288,72 triliun.
Direktur Consumer dan Retail Banking BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan pertumbuhan kredit di semester I lalu tak lepas dari peran BNI dalam melayani nasabah yang membutuhkan kredit konsumsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat realisasi tersebut, Anggoro optimistis pertumbuhan KPR tahun ini bisa menembus dua digit atau di atas 10 persen. Terlebih Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan insentif berupa pelonggaran uang muka KPR melalui instrumen Loan to Value (LTV).
Kinerja positif penyaluran KPR juga dicetak oleh Maybank Indonesia. Sepanjang enam bulan awal ini, bank asal Malaysia itu berhasil membukukan penyaluran KPR sebesar Rp18,5 triliun naik 7,5 persen jika dibandingkan semester I tahun lalu.
"Di semester II biasanya utilitas permintaan kredit akan lebih tinggi, jadi kita optimistis masih bisa lebih tinggi sedikit dari yang sudah kita capai saat ini," ujar Taswin.
Pertumbuhan penyaluran KPR juga dicatatkan oleh BCA selama semester I 2016. Anak usaha Grup Djarum tersebut mencatatkan pertumbuhan KPR 8,5 persen dari Rp56,89 triliun menjadi Rp61,7 triliun hingga akhir Juni 2016.
Direktur Consumer Banking BCA Henry Koenafi mengatakan jika dilihat dari pertumbuhan secara bulan ke bulan (month to month), pertumbuhan KPR cenderung moderat, namun bisa lebih agresif akibat keringanan DP KPR akibat pelonggaran ketentuan LTV yang dilakukan oleh BI.
"Kita masih optimis KPR masih bisa tumbuh positif," ujar Henry. (gen)