Pelemahan kinerja ini terlihat dari kelima emiten yang berada di sektor properti di atas rata-rata mengalami penurunan laba bersih. Meskipun ada beberapa emiten uang mengalami pertumbuhan, angkanya tidak signifikan atau tipis.
PT Bumi Serpong Damai Tbk misalnya, kinerja berkode emiten BSDE ini mengalami penurunan pendapatan sebesar 17,94 persen menjadi Rp2,870 triliun dari periode yang tahun sebelumnya Rp3,385 triliun. Hal ini turut menimbulkan penurunan yang signifikan terhadap laba bersih perusahaan menjadi Rp821 miliar atau 72,21 persen dari sebelumnya Rp1,415 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya semester I 40 persen jadi masih oke, Sabtu kemarin sebenarnya kami sudah 40 persen. Jadi memang semester pertama itu agak lamban karena terpotong Lebaran juga, bisa jadi nanti terakselesari lagi di kuartal III dan IV," kata Direktur Utama Bumi Serpong Damai Hermawan Wijaya, Senin (1/8).
Kemudian, PT Puradelta Lestari (DMAS) Tbk juga mengalami penurunan laba bersih lebih dari setengahnya pada semester ini, yaitu menjadi Rp486,169 miliar atau turun 58,84 persen dari Rp772,199 miliar. Hal ini sejalan dengan turunnya pendapatan perusahaan sebesar 30,96 persen menjadi Rp976,584 miliar dari Rp1,278 triliun.
Sementara, dari kelima emiten dalam tabel tersebut, PT Pakuwon Jati (PWON) Tbk dan PT Jaya Raya Property (JRPT) Tbk berhasil tumbuh dari segi laba bersih dan pendapatan.
Pakuwon membukukan laba bersih sebesar Rp895 miliar atau tumbuh 18,54 persen dari sebelumnya Rp755 miliar. Namun, dari sisi pendapatan Pakuwon hanya tumbuh 0,61 persen menjadi Rp2,440 triliun dari Rp2,425 triliun.
Sementara, laba bersih Jaya Raya hanya tumbuh 1,59 persen dari Rp438,261 miliar menjadi Rp445,438 miliar. Kemudian untuk pendapatan tumbuh menjadi Rp1,071 triliun atau 4,48 dari sebelumnya Rp1,025 triliun.
Analis Minna Padi Investama Christian Saortua menilai, penurunan kinerja yang dihadapi oleh emiten properti disebabkan karena banyak yang memutuskan untuk menahan diri dalam meluncurkan proyeknya di semester I 2016.
“Sebenarnya beberapa perusahaan properti belum ada proyek baru di semester I, misalnya lihat BSDE juga masih mengandalkan proyek lama, existing project. Lalu, Summarecon sendiri masih fokus jual produk yang dulu. Ada banyak pengembang menahan diri melepas produk mereka,” kata Christian kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/8).
Hal ini dilakukan juga karena adanya penantian kebijakan amnesti pajak, di mana pemerintah menargetkan dana repatriasi Rp165 triliun. Dengan kebijakan tersebut, maka juga akan berdampak pada bisnis properti. Namun, Christian sendiri belum bisa memastikan berapa banyak investor yang akan melakukan investasi dalam bisnis properti.
“Dengan amnesti pajak, mereka dapat meluncurkan produk-produk baru yang lebih premium. Dari emiten yang saya jumpai kemarin, misalnya BSDE, mereka akan meluncurkan klaster baru di semester kedua. Kemudian juga beberapa proyek yang baru 30 persen terjual, sisanya diharapkan digenjot di akhir semester kedua,” jelasnya.
“Sekarang ini yang menengah ke atas sedang jenuh karena memang dulunya itu istilahnya kebanyakan pembeli-pembeli investor. Sekarang kebanyakan end user, jadi menengah ke bawah atau pembeli rumah pertama. Jadi pola permintaan berubah,” paparnya.