Direktur Utama Semen Baturaja, Pamudji Rahardjo mengatakan, penetrasi pasar yang baru tetap akan dilakukan di wilayah utama pemasaran perusahaan yaitu Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Lampung. Namun, pemasaran kali ini akan dilakukan di daerah yang terbilang pedalaman mengingat tak semua pelaku usaha mau masuk ke dalamnya.
"Kami berani masuk kesana karena belum ada pelaku pasar yang mau. Pasalnya mengangkut ke sana tidak ekonomis, sedangkan kami ada pabrik di Sumatera Selatan sehingga kami berani-berani saja. Ini kami lakukan demi antisipasi oversupply selepas permintaan utama, seperti Asian Games, selesai," jelas Pamudji di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (2/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pamudji melanjutkan, hingga semester I tahun ini, perusahaan telah menjual 41,095 ribu ton untuk pembangunan LRT, atau 6,04 persen dari total penjualan semen perusahaan sebesar 693,19 ribu ton. Sayangnya, ia tak menjelaskan berapa besar proporsi penjualan perusahaan yang digunakan untuk pembangunan wisma atlet.
Selain mengantisipasi kelebihan suplai, penciptaan pasar baru ini juga dimaksudkan untuk menyerap tambahan produksi baru setelah pabrik baru milik perusahaan bernama Baturaja II beroperasi di akhir Juni 2017. Jika nanti pabrik itu selesai, maka kapasitas produksi perusahaan bisa meningkat dari 2 juta ton menjadi 3,85 juta ton.
"Jika produksi kami meningkat dan penjualan juga lancar, kami harapkan bisa menjadi pemain semen terkuat di Sumatera Selatan. Saat ini market share kami di sana sebesar 50 hingga 55 persen, dan nantinya kami harap bisa meningkat," jelasnya.
Sebagai informasi, volume penjualan semen perusahaan per semester I 2016 tercatat sebesar 693,19 ribu ton atau meningkat empat persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 666,18 ribu ton. Hal tersebut berimbas pada tumbuhnya pendapatan perusahaan menjadi Rp651,93 miliar atau naik 3 persen dibandingkan tahun lalu Rp635,23 miliar.