Direktur Utama Timah Mochtar Riza Pahlevi berharap, kinerja anak usahanya mendongkrak kinerja keuangan perseroan hingga akhir tahun nanti, mengingat harga timah saat ini masih belum menunjukkan pemulihan. Menurut data yang dikantongi perseroan, harga jual rata-rata timah sepanjang kuartal I 2016 sebesar US$15.478 per Metrik Ton (MT) di mana angka ini turun 18,26 persen ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$18.936 per MT.
Ironisnya lagi, pelemahan harga timah ikut membuat produksi perseroan loyo. Produksi timah hingga kuartal I 2016 hanya berkisar 4.205 MT atau rontok 40,41 persen jika dibandingkan dengan posisi tahun lalu, 7.057 MT. Walhasil, pendapatan perseroan di semester I 2016 turun menjadi Rp1,37 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,3 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menerangkan, saat ini, rumah sakit yang dipegang oleh PT Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) sudah memiliki empat unit dan empat klinik yang berada di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Bahkan, pada semester II ini, perseroan akan melakukan dua pembangunan di Pangkalpinang dan Belitung, sehingga kontribusi pendapatannya bisa meningkat.
"Dengan melebarnya sayap anak usaha ini, kami berharap, target profit bisa tercapai sebesar Rp400 miliar," imbuh dia.
Sebagai informasi, PT Timah menghasilkan laba Rp101,56 miliar di sepanjang 2015. Realisasi ini menurun 85 persen dari angka tahun lalu sebesar Rp672,99 miliar.