Hal itu dilakukan meski Letter of Intent (LoI) terkait proyek kabel bawah laut tegangan tinggi arus searah bagi jaringan listrik Jawa-Sumatera (High Voltage Direct Current/HVDC) belum diterbitkan oleh PT PLN (Persero).
Padahal, sejatinya LoI tersebut perlu ditunggu karena proyek HVDC rencananya dihubungkan dengan PLTU yang berlokasi di Banko Tengah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, groundbreaking sendiri sudah dimulai pada November tahun lalu, sehingga terdapat rentang waktu yang cukup lama dan membuat proyek ini tidak produktif.
Lebih lanjut, ia berharap konstruksi tetap bisa dijalankan di tahun ini mengingat proyek HVDC sudah pasti akan dibuat, karena sudah masuk di dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2016 hingga 2025. Meski demikian, perusahaannya tetap akan meneruskan konstruksi Sumsel 8 meski belum ada kemajuan berarti dari proyek HVDC.
"Mau ada HVDC, mau tidak ada, Sumsel 8 harus jalan. HVDC biar saja menjadi urusan PLN. Kami ada keyakinan tahun ini bisa mulai pembangunan dengan durasi selama dua tahun ke depan, sehingga apabila berproduksi, nanti bisa sejalan dengan transmisi yang dikerjakan oleh PLN," katanya.
Sebagai informasi, Sumsel 8 memiliki kapasitas 2x620 Megawatt (MW) dengan nilai investasi US$1,6 miliar. Proyek ini dikerjakan bersama perusahaan patungan dengan China Huadian Hong Kong, dan membentuk anak usaha bernama PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP). (gir)