Pasalnya, BPS mencatat berdasarkan kelompok pengeluaran, belanja pemerintah hanya memberikan kontribusi 9,44 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Ini karena pemerintah menginstruksikan untuk segera menyerap anggaran kemudian mengalokasikannya untuk pembangunan proyek kemudian, beberapa anggaran sudah dipangkas sehingga tidak banyak porsi belanja pemerintah," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Jumat (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belanja pemerintah yang dipotong itu yang tidak produktif, seperti perjalanan dinas dan rapat. Bukan yang seperti infrastruktr. Jadi, ini tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi secara langsung," kata Suryamin.
Tak hanya itu, optimisme Suryamin juga bertambah dengan adanya kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty yang bergulir sejak Juli lalu hingga Maret 2017 mendatang. Pasalnya, dana repatriasi tax amnesty dapat disalurkan untuk memberikan suntikan investasi di sektor-sektor tertentu.
"Kalau bisa mencapai Rp165 triliun, tentu dana tax amnesty ini bisa digunakan untuk investasi di sektor konstruksi dan manufaktur. Karena kedua sektor itu bisa membuat ekspor jadi lebih baik," jelas Suryamin.
Prediksi Kuartal III
Suryamin memastikan, beberapa sektor yang telah memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi kuartal II dapat berlanjut di kuartal III.
Pertama, sektor pertanian, Suryamin memprediksi sektor ini masih bisa memberikan kontribusi besar sekalipun isu musim kemarau basah menerpa Indonesia hingga akhir tahun.
"Sekalipun kemarau-basah, asal petani bisa melihat waktu yang tepat untuk tanam padi, tentu hasilnya pun akan bagus sehingga hasil panen diperkirakan tidak bergeser lagi seperti pada kuartal II," ujar Suryamin
"Dengan adanya paket kebijakan itu, dunia usaha jadi dirangkul, diharapkan tidak ada lagi perizinan yang menyulitkan sehingga dunia usaha menambah peluang di sektor ini," katanya. (gir)