Thomas menilai sudah saatnya investasi di bidang usaha yang banyak digarap investor dikurangi dan dialihkan ke beberapa sektor yang dianggap masih perlu digarap. Ia mencontohkan investasi yang sudah saatnya dikurangi adalah perkebunan kelapa sawit, yang saat ini tengah dilakukan moratorium lahan baru akibat kapasitas produksinya sudah berlebihan.
Mantan Menteri Perdagangan ini justru menginginkan investor bisa mengucurkan modal lebih besar ke sektor-sektor yang sedang menggeliat seperti pariwisata dan jasa-jasa karena angka pertumbuhannya melebihi pertumbuhan ekonomi semester I di angka 4,9 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya DNI perlu di-review kembali, karena waktu pengumuman paket kebijakan, Presiden mengungkapkan ada langkah membuka DNI lebih jauh. Namun posisi Pemerintah harus jelas, ada beberapa sektor yang memang overcapacity dan oversupply tidak diimbau untuk ditambah (investasinya)," ujar Thomas, Senin (8/8).
Namun, ia masih belum tahu apakah kebijakan yang mengakomodasi hal itu bisa diikutsertakan di dalam DNI.
"Kami juga berharap investasi bisa lebih ke luar Jawa, seperti ke Kalimantan yang exposure-nya lebih karena sektor pertambangan. Namun, belum ada policy yang bisa melarang sebuah sektor untuk masuk ke sebuah wilayah tertentu, dan kami berhati-hati karena Presiden bilang hati-hati bikin aturan. Jangan malah bikin (aturan investasi) yang rumit," katanya.
"Semuanya perlu koordinasi, dan itu akan diangkat di rapat koordinasi ekonomi. Harus ada koordinasi dengan kementerian teknis dengan perindustrian, pertanian, perhubungan, dan lain-lain supaya ada gambaran yang komprehensif dan sinambung terkait kebijakan yang diambil," jelas Thomas.
Sebagai informasi, kebijakan baru terkait DNI tercantum di dalam Perpres Nomor 44 tahun 2016 sebagai pengganti Perpres Nomor 39 tahun 2014. Di dalam beleid tersebut, pemerintah menambah 20 bidang usaha yang tertutup bagi asing dan mengeluarkan 35 bidang usaha yang tadinya tercantum di dalam DNI.