"Saya kira, ini interpretasi spekulatif dari saya, tapi memang pada triwulan II agak istimewa dengan banyak ketidakpastian," kata Kepala BKPM Thomas Lembong seusai penandatanganan nota kesepahaman dengan BPS, Senin (8/8).
Menurut Thomas, banyak pihak yang menunggu kepastian amnesti pajak dan perombakan kabinet pada triwulan lalu. Dari eksternalnya, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) juga turut membuat investor memilih berhati-hati dan menunggu untuk berinvestasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski berbagai ketidakpastian telah dilewati, namun mantan Menteri Perdagangan itu belum dapat memperkirakan pertumbuhan investasi pada dua triwulan akhir tahun ini.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,18 persen pada kuartal II 2016. Motor utama dari pertumbuhan PDB nasional masih konsumsi rumah tangga, yang tumbuh 5,04 persen.
Sementara untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebagai cerminan investasi langsung, hanya tumbuh 5,06 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Untuk kinerja sektor perdagangan masih mengalami kelesuan, yang dipicu oleh kontraksi ekspor dan impor. Ekspor barang non migas turun 2,73 persen karena perlambatan di negara tujuan ekspor, sedangkan impor minus 3,01 persen karena terkena imbas dari penurunan permintaan domestik dan depresiasi rupiah.
Sedangkan belanja pemerintah meski tumbuh 6,28 persen, tetapi sumbangsihnya terhadap pembentukan PDB relatif kecil. (ags/gen)