“Kalau bicara Fixed Broadband, produk IndiHome kami targetkan bisa menguasai 50 - 60 persen pangsa pasar. Ini perkiraan internal dengan melihat data kompetitor yang listed di pasar saham,” ungkap Direktur Innovation and Strategic Portfolio Telkom Indra Utoyo, Selasa (9/8).
Indra menuturkan, Telkom akan menggeber layanan fixed broadband dengan mempercepat koneksi serat optik masuk ke rumah-rumah, mendorong migrasi pelanggan menggunakan serat optik, dan memperkaya platform baik yang linear atau hybrid bekerjasama dengan pemain Over The Top (OTT) seperti iFlix, Catchplay, dan Viu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang periode tersebut, Telkom memiliki 10 juta home passed dengan dukungan backbone serat optik sepanjang 83 ribu kilometer (km) dan luas data center mencapai 70 ribu meter persegi.
Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi mengakui pertumbuhan layanan data sangat baik di jaringannya.
“Saat ini rata-rata pemakaian baru 800 MB, sementara di luar negeri itu bisa dua hingga tiga kali lipat. Di mobile broadband kuncinya adalah makin banyak orang menggunakan smartphone, makin besar ruang bagi kami untuk tumbuh,” katanya.
Secara terpisah, Analis NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada memperkirakan layanan data akan menjadi mesin pertumbuhan bagi Telkom, terutama dari produk yang dikelola Telkomsel.
“Pendapatan grup Telkom memang ditopang oleh layanan data. Kemarin ada pengumuman penurunan biaya interkoneksi pun tak akan pengaruh besar karena manajemen sudah antisipasi dampaknya,” katanya.
Menurutnya, jika pun pasar sempat bereaksi pada Selasa (2/8) hingga Rabu (3/8) dimana saham Telkom sempat tertekan karena isu penurunan biaya interkoneksi, terbukti saham operator itu membaik pada Kamis (4/8).
“Bahkan pada Senin (8/8) sempat menjadi salah satu pendorong Indeks Saham Gabungan (IHSG). Kalau hari ini (Selasa, 9/8) agak tertekan itu bukan karena isu interkoneksi lagi, tetapi pasar memang kondisi tak bagus. Banyak aksi profit taking, saham Telkom terkena salah satu dampaknya,” ungkapnya.
Dalam data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Rabu (3/8), saham Telkom sempat tertekan pasca pemerintah mengumumkan penurunan biaya interkoneksi secara rerata 26 persen mulai 1 September 2016. Investor langsung bereaksi negatif terhadap saham Telkom. Saham Telkom yang sempat menembus Rp 4.530 per saham pada Senin (1/8), langsung berada di Rp 4.320 per saham di Rabu (3/8) pagi dan ditutup pada Rp 4.290 per saham di hari Rabu itu.
Saham Telkom mulai membaik sejak Kamis (4/8) dengan bermain di Rp 4.320 dan pada Jumat (5/8) di Rp 4.350. Pada Senin (8/8) saham Telkom ditutup di Rp 4.370 dan di Selasa (9/8) dibuka di Rp 4.410. Namun jelang sesi perdagangan I, saham Telkom dalam tekanan profit taking dan bermain di Rp 4.360.
Sejumlah analis memberikan target saham Telkom pada tahun ini di Rp 4.500 hingga Rp 5.400 per saham. (gen)