"Saya minta Menteri Perindustrian untuk mengkaji, bagaimana lingkungan jadi salah satu pertimbangan. Euro 4 kami minta segera dikaji dan diterapkan di Indonesia, supaya jadi kebahagiaan manufaktur kita, dan upaya meningkatkan ekspor," tutur JK pada pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Kamis (11/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan bahas dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kami minta supaya Pertamina bisa menyiapkan (BBM) yang diperlukan pada tahun 2019 hingga 2020. Karena kenapa, Euro 4 itu bagus untuk lingkungan," jelas Airlangga ditemui di lokasi yang sama.
Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang menjelaskan bahwa BBM yang cocok dengan kadar emisi Euro 4 akan bisa diproduksi secara massal setelah perusahaan meningkatkan kompleksitas dan peningkatan kapasitas kilang-kilang perusahaan yang sudah ada (Refinery Development Master Plan/RDMP), yang ditargetkan selesai tahun 2023.
Namun, ia menjamin kebutuhan BBM dengan standar emisi Euro 4 sudah bisa terpenuhi di tahun 2020, setelah proyek Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) di kilang Cilacap selesai.
"Tapi tetap kemampuan masyarakat harus dilihat kembali. Kalau dipaksa Euro 4, maka harga mobil akan tinggi. Karena Euro 4 itu bukan hanya kadar oktan, tapi juga perlu menyesuaikan kandungan sulfur. Makanya konsumen harus beralih pelan-pelan dari Premium ke Pertalite lalu Pertamax," pungkasnya. (bir/gen)