Kelima emiten tersebut, antara lain PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Tempo Scan Pacific (TSPC), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF), dan PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF).
Kimia Farma mencatat peningkatan pendapat tertinggi dibandingkan emiten lainnya menjadi Rp2,48 triliun atau naik 18,09 persen dari posisi sebelumya sebesar Rp2,10 triliun. Perseroan pun berhasil meraup laba bersih paling banyak jika dibandingkan emiten lainnya yakni sebesar 20,85 persen atau menjadi Rp93,59 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp77,44 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini disebabkan proses distribusi dari emiten ini terbilang kuat, terlebih lagi Kimia Farma masih menguasai pasar obat generik nasional hingga sekarang.
Performa apik tersebut diikuti oleh Sido Muncul yang membukukan kenaikan pendapatan menjadi Rp1,29 triliun atau 13,15 persen dari sebelumnya Rp1,14 triliun. Perusahana mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 7,73 persen menjadi Rp265,14 miliar dari Rp246,11 miliar.
Aldy menyatakan Sido Muncul masih akan menjadi emiten dengan pendapatan dan laba tertinggi untuk perusahaan obat herbal. Selain itu, dari sisi branding sendiri Sido Muncul dinilai sudah sangat kuat.
“Untuk perusahaan obat herbal masih akan dimenangkan Sido Muncul. Ini karena branding-nya yang sudah cukup tinggi dan Sido Muncul ini kan mau tambah pabrik, itu akan berdampak pada penambahan kapasitas dia sekarang, jadi volume penjualan dapat bertambah,” imbuhnya.
Sementara itu, Kalbe Farma membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,64 persen menjadi Rp9,55 triliun dari Rp8,71 triliun. Emiten berkode KLBF ini meraup laba bersih sebesar 7,54 persen dari Rp1,06 triliun menjadi Rp1,14 triliun.
Tempo Scan Pacific mencatatkan pendapatan tumbuh hingga 17 persen dari Rp4 triliun menjadi Rp4,68 triliun. Sayangnya, perusahaan mengalami penurunan kinerja menajemen, di mana laba bersih turun 9,83 persen menjadi Rp339,76 triliun dari Rp373,19 triliun.
Indofarma menjadi satu-satunya perusahaan yang masih mencatatkan rugi bersih Rp27,86 miliar, naik 17,05 persen dari sebelumnya Rp23,80 miliar. Padahal, pendapatan Indofarma tumbuh tipis sebesar 1,84 persen dari Rp462,77 miliar menjadi Rp471,31 miliar.
“Semester I sesuai ekspektasi, jadi memang tidak ada yang mengejutkan hasilnya. Sesuai konsensus sektor ini masih positif. Tapi margin keseluruhan ke depan kelihatannya masih tertekan, tapi diimbangi dengan volume penjualan yang positif,” jelasnya. (gir/gen)