Ekonom Bank Permata, Josua F Pardede menilai, rencana pemerintah untuk memangkas belanja negara sebesar Rp133,8 triliun merupakan langkah tepat untuk menjaga defisit agar tidak semakin melebar hingga akhir tahun.
Pasalnya, melihat tren tahun-tahun sebelumnya, akselerasi belanja negara biasanya baru terjadi pada kuartal IV. Padahal, pemerintah telah memperkirakan shortfall penerimaan perpajakan hingga akhir tahun bisa mencapai Rp219 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Josua, jika pemerintah gagal menjaga defisit anggaran tetap di bawah ketentuan perundangan, maksimal 3 persen di bawah PDB, maka kredibilitas pemerintah akan dipertanyakan baik secara politis di dalam negeri maupun di mata dunia internasional.
"Dampaknya akan cukup besar jika defisit anggaran pemerintah di atas 3 persen,"ujarnya.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi defisit anggaran negara hingga 5 Agustus 2016 mencapai Rp262,5 triliun atau 2,08 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Realisasi itu telah mencapai 88,5 persen dari target defisit Rp296,7 triliun atau 2,35 persen terhadap PDB.
Berdasarkan keterangan resmi Kemenkeu yang dikutip Selasa (16/8), realisasi penerimaan per 5 Agustus 2016 tercatat sebesar Rp775,2 triliun atau 43,4 persen dari target Rp1.786,2 triliun. Sementara, realisasi belanja negara telah mencapai Rp1.037,6 triliun atau 49,8 persen dari pagu Rp2.082,9 triliun. (gen)