Jika ditemukan pemborosan bahkan menjurus kepada korupsi, Prasetyo menilai dana tersebut sebaiknya mendapat prioritas pertama untuk dipangkas demi penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.
“Belanja bansos selama ini tidak efisien, bahkan cenderung rawan disalahgunakan,” tegasnya, Kamis (18/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sebaiknya pemerintah menghapus alokasi dana tersebut atau memusatkan penyalurannya melalui satu kementerian saja.
Secara garis besar, Prasetyo mengapresiasi RAPBN 2017 yang disampaikan Jokowi ketika membaca nota keuangan di depan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pada 16 Agustus 2016 lalu. Ia menyebut postur RAPBN 2017 mencerminkan kondisi ekonomi terkini, dan lebih realistis.
Dari sisi pendapatan dari penerimaan pajak diperkirakan Rp1.495,9 triliun, lebih rendah dibandingkan APBNP 2016 yang sebesar Rp1.359,1 triliun. Sementara itu dari sisi belanja, secara umum juga diperkirakan mengalami penurunan sebesar 0,6 persen dibandingkan APBNP 2016.
Komponen belanja yang mengalami penurunan terbesar adalah belanja hibah, turun sebesar 74,15 persen, belanja utang luar negeri turun 8,63 persen, belanja subsidi turun 1,62 persen, dan belanja non kementerian/lembaga turun sebesar 1,23 persen. (gen)