"Saya turun ke pasar, kebanyakan lemak dari pada dagingnya. Saya akan telusuri siapa yang impor ini, saya akan cabut izinnya," ungkap Enggar di kantornya, Kamis (18/7).
Pantas saja, kata Enggar, masyarakat masih belum menerima kehadiran daging sapi beku untuk mengisi kebutuhan konsumsi daging. Sebab, masyarakat merasa rugi saat membeli daging sapi beku yang mengandung lemak berlebih, sekalipun harganya dipatok dikisaran Rp80 ribu per kilo gram (kg).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya merugikan masyarakat, beredarnya daging sapi beku dengan lemak berlebih tidak sejalan dengan visi pemerintah untuk menyediakan kebutuhan pangan masyarakat dengan harga dan mutu yang baik.
"Feedloter kampanyenya berbeda. Mereka bilang daging sapi segar lebih disukai tukang bakso, ini mereka tidak mampu mengkampanyekan hal yang sama dengan pemerintah berarti," imbuh Enggar.
Padahal, lanjutnya, pemerintah tak bisa melakukan kampanye ini sendirian sehingga dibutuhkan bantuan peran dari para importir daging sapi dan feedloter agar masyarakat mau mengonsumsi daging sapi beku. Dengan demikian, pemerintah bisa mengendalikan impor daging sapi segar.
Batasi Impor
Mendag Enggar mengaku akan membatasi impor daging sapi segar guna mendorong importir beralih dari sekedar pengimpor daging sapi menjadi peternak sapi.
"Impor tetap dibolehkan, dengan syarat, mereka (importir) jadi peternak sapi. Mereka bisa kembangkan sapi bibitan hingga siap diolah daging dan susunya," kata Enggar.
Dia berharap feedloter dapat menjalankan peran sebagai mitra peternak sapi lokal, terlebih dari sisi dukungan dana. Pasalnya, peternak sapi lokal masih kerap terkendala permasalahan pendanaan atau modal di tengah bisnisnya.
"Saya ingin mereka (feedloter) bisa investasi jangka panjang, buat pembibitan dengan mengajak peternak lokal karena peternak lokal sering terhimpit masalah dana, akibatnya mereka lari ke tengkulak dan merugikan mereka," jelas Enggar. (ags)