Suryamin, Kepala BPS mengatakan, terdapat beberapa hal yang mempengaruhi penyempitan jurang kalangan bawah dan kalangan atas ini, yakni yang utama dari sisi pengupahan buruh tani maupun bangunan.
"Kenaikan upah buruh tani harian meningkat 2,99 persen, dari Rp46.180 per hari pada Maret 2015 menjadi Rp47.559 per hari pada Maret 2016. Ini penyumbang utama penyempitan jurang kelas atas dan bawah," kata Suryamin, Jumat (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor kedua, menurut BPS, yakni adanya kenaikan jumlah pekerja bebas. Baik di sektor industri pertanian maupun non pertanian. Untuk sektor pertanian, peningkatan jumlah pekerja bebas mencapai 100 ribu pekerja, dari semula berjumlah 5,1 juta pada Februari 2015 menjadi 5,2 juta pada Februari 2016.
"Kenaikan pengeluaran ini merefleksikan peningkatan pendapatan kelompok penduduk bawah, tidak lepas dari upaya pembangunan infrastruktur padat karya, bantuan sosial, dan perbaikan pendapatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan bawah," ujar Suryamin.
Terakhir, BPS menilai, pertumbuhan persentase penduduk di kawasan perkotaan juga memberi andil pada menurunan gini rasio ketimpangan pengeluaran penduduk.
"Peningkatan komposisi penduduk daerah perkotaan mengindikasikan adanya peningkatan migrasi dari desa ke kota yang menyebabkan semakin tingginya upah yang diterima oleh buruh kasar di daerah perkotaan," imbuhnya. (gen)