Anggota Komisioner LPS Destry Damayanti mengatakan, revisi tersebut sejalan dengan Bank Indonesia, yang memperkirakan pertumbuhan kredit tidak akan mencapai dua digit pada tahun ini.
"Kita memang melihat pemulihan ekonomi kita belum total. Ketidakpastian masih tinggi di global, jadi kehati-hatian masih perlu diwaspadai oleh bank-bank," ujar Destry, Senin (22/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, jelasnya, LPS juga mewaspadai tekanan rasio kredit bermasalah (NPL) yang trennya terus merangkak naik. Oleh sebab itu, ia mengimbau perbankan untuk gencar melakukan konsolidasi internal.
"Dan juga kita lihat kreditnya melambat, memang faktanya memang belum fully recovered, sehingga pertumbuhan kreditnya harus lebih rasional. Karena kalau bank-bank dalam kondisi begini dia menggenjot kredit juga dia agak berisiko tinggi," jelas Mantan Ekonom Bank Mandiri itu.
"Seperti komoditas, sebaiknya itu dihindari dulu tahun ini," katanya.
Lihat juga:LPS Kaji Penurunan Bunga Penjaminan Simpanan |
Destry memperkirakan pertumbuhan kredit dan DPK pada semester II akan banyak bergantung pada eksekusi anggaran belanja pemerintah pusat dan daerah meski pemerintah telah memutuskan pemangkasan anggaran Rp133 triliun tahun ini.
"Perlu diingat pemerintah menjanjikan investasi infrastruktur yang prioritas tak akan terhambat, dan memang ini sangat dibutuhkan dan itu masih bisa menolong pertumbuhan kredit tahun ini," jelasnya. (ags/gen)