Dalam rapat dengar pendapatan dengan Komisi VI DPR RI Ketua Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Asmawi Syam mengatakan bank-bank BUMN masih berpotensi menarik utang guna memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam jumlah besar salah satunya untuk proyek infrastruktur.
"Kami masih ada rencana pinjam lagi yang pasti kami lihat kebutuhannya seperti apa," ujar Asmawi, Senin (29/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di BNI pinjaman itu juga bisa dipakai untuk bayar surat utang yang jatuh tempo," ujar Baiquni.
Direktur Treasury BNI Panji Irawan mengatakan biasanya kebutuhan pendanaan selalu mengikuti rencana perseroan dalam mengejar pertumbuhan target kredit dan operasional. Penarikan pinjaman biasanya dilakukan jauh-jauh hari sebelum perjanjian kredit antar bank dan nasabah disepakati.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan karakter tenor yang cukup panjang serta bunga yang rendah membuat tawaran pinjaman CDB menjadi sangat menarik. Oleh sebab itu bank berlogo pita emas itu berniat untuk menarik pinjaman kembali dalam waktu mendatang.
"Kalau masalah pinjaman yang kemarin sudah clear dan tidak dipermasalahkan, ya kami mau tambah lagi," ujar Kartika.
Gatot mengatakan jika mengacu kebutuhan pembiayaan dalam RPJMN, kapasitas perbankan dalam melakukan pembiayaan hanya mampu mencapai Rp450 hingga Rp500 triliun. Untuk itu diperlukan tambahan dana sebesar Rp500 triliun setiap tahun untuk membantu perbankan dalam menyalurkan pinjaman ke infrastruktur.
"Kami masih perlu, tapi kami melihat dulu apakah proyek-proyek itu sudah firm, kalau misalnya mereka oke ya uangnya sudah tersedia," ujar Gatot. (gir)