Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun dari kisaran 5-5,4 persen menjadi 4,9-5,3 persen. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan pemangkasan belanja negara oleh pemerintah untuk menyesuaikan dengan perkiraan kurangnya (shortfall) penerimaan perpajakan sebesar Rp219 triliun.
“Saya yakin, pemangkasan ada pengaruhnya dari sisi growth. BI sudah mengatakan mereka akan mengoreksi sampai 0,1 persen,” tutur Sri Mulyani, tadi malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia menginstruksikan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) untuk melakukan proyeksi ulang menggunakan model ekonomi. Hasilnya akan dijadikan basis penetapan asumsi makro rancangan anggaran negara tahun depan
Upaya Terbaik
Perempuan yang kerap disapa Ani menilai pemerintah perlu hati-hati dalam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun. Pasalnya, kondisi perekonomian global masih tidak kondusif untuk mendukung perekonomian domestik.
“Sekarang lihat, lingkungan global dengan situasi di Amerika kemungkinan Janet Yellen (Gubernur Bank Sentral AS) akan menaikkan suku bunganya dan beberapa dari faktor perdagangan internasionalnya juga masih lemah,” ujarnya.
“Jadi ada faktor-faktor postif yang saya tentu berharap ini akan menciptakan stimulus terhadap perekonomian yang tidak hanya tergantung kepada APBN. Itu yang merupakan faktor-faktor yang kami sebagai pemerintah perlu jaga,” ujarnya.
Menurut Sri Mulyani, postur APBN hanya merupakan salah satu faktor untuk menggerakkan perekonomian. Meskipun penerimaan perpajakan diperkirakan shortfall Rp219 triliun dan anggaran belanja negara tahun ini dipangkas, Sri Mulyani meyakini APBNP 2016 masih memiliki daya dorong terhadap perekonomian tahuh ini.
“Sebetulnya, APBN kita dengan defisit yang diperkirakan akan mencapai 2,5 persen itu masih memiliki daya stimulus yang cukup besar kepada perekonomian. Jadi kita upayakan saja yang terbaik,” ujarnya. (gen)