Head of Marketing & Online Service Daewoo Randy Gunawan, menyatakan perusahaan sekuritas atau broker yang tarifnya selama ini tidak sebesar yang ditetapkan oleh APEI tentunya akan keberatan.
Seperti diketahui, APEI menetapkan minimum fee broker menjadi 0,2 persen untuk transaksi beli dan 0,3 persen untuk transaksi jual, sedangkan transaksi perdagangan elektronik atau online trading 0,18 persen. Hal ini disebabkan APEI melihat banyaknya perang tarif antar broker untuk mendapatkan investor, sehingga banyak broker yang menurunkan tarifnya sekecil mungkin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Randy menjelakan, peraturan ini akan mempersulit kinerja anggota bursa dengan ukuran lebih kecil karena harus bersaing secara langsung dengan yang lebih besar dengan fee yang sama. Sementara, perusahaan yang lebih besar berpotensi untuk memberikan insentif tambahan (non-fee) bagi para nasabahnya. Namun, perusahaan yang relatif lebih kecil kesulitan dalam mendapatkan investor baru.
"Investor pihak yang paling dirugikan dalam hal ini karena mereka diwajibkan untuk membayar fee lebih tinggi atas transaksi mereka," imbuhnya.
Minat calon investor berpotensi turun. Dengan begitu, nilai transaksi juga kemungkinan akan menurun dan mempengaruhi industri pasar modal secara keseluruhan.
Selain Indonesia, aturan ini sudah dijalankan di Malaysia dan Filipina. Namun, jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia meripakan salah satu negara dengan nilai tertinggi. Sehingga Daewoo menilai seharusnya Indonesia tak perlu belajar atau mengikuti negara yang kualitasnya di bawah Indonesia.
"Harusnya belajar dari negara yang lebih maju dong, dua negara itu bursanya lebih enggak lebih baik dari Indonesia," jelasnya.
Jika mengacu kepada negara-negara dengan industri pasar modal yang lebih unggul dibandingkan Indonesia, seperti China, Korea, Eropa, dan Amerika, negara-negara tersebut tidak mengatur fee minimum transaksi.
"Nah asosiasinya kan hanya satu nih sekarang, kemungkinan besar nanti timbul asosiasi baru," pungkasnya. (gir/gen)