"Punya pengalaman memang penting. Tapi kalau secara finansial tidak cukup dan teknisnya kurang mumpuni, kan kurang juga. Pertamina dan mitranya saya kira punya pengalaman dan juga finansial yang cukup untuk menggarap proyek PLTGU Jawa 1," ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Minggu (4/9).
Berdasarkan laporan keuangan Pertamina, hingga semester I 2016, kas perseroan tercatat sebesar US$5,08 miliar. Angka ini naik 63,3 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu US$3,11 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fabby Tumiwa, pengamat kelistrikan dari Institute for Essential Service Reform mengatakan, keempat peserta lelang mempunyai kemampuan dan kapasitas yang relatif seragam, sehingga mempunyai kesempatan yang sama.
Menurut Fabby, PLN harus memperlakukan seluruh bidder secara sama dan proses penentuan keputusan dilakukan berdasarkan penilaian-penilaian tersebut diatas dan kriteria lainnya yang disebutkan pada dokumen tender. Salah satu aspek yang perlu diteliti benar oleh PLN adalah ketepatan waktu pembangunan.
"Jika bidder sudah memiliki lahan, tentunya salah satu keuntungan tersendiri, tapi bukan satu-satunya aspek yang menentukan keputusan pemenang tender," terang dia.
Fabby menambahkan, Pertamina harus menawarkan teknologi terbaik dan harga yang lebih bersaing, apalagi jika sudah mempunyai lahan. "Demikian juga waktu penyelesaian pekerjaan harusnya bisa lebih cepat," tutur dia.
Sesuai Request For Proposal (RFP) dari PLN yang dibuat oleh konsultan Ernst & Young sebagai kuasa PLN untuk melelang pekerjaan PLTGU Jawa, dengan rencana titik serah listrik bisa dilakukan di dua titik, yaitu Muara Tawar, Bekasi dan Cibatu Baru (dekat dengan Cilamaya), Karawang, Jawa Barat. (bir)