President and General Manager Total Hardy Pramono menjelaskan, turunnya nilai keekonomian rata-rata lapangan di blok Mahakam terjadi karena sumur-sumur yang ada (existing) sudah terbilang tua. Ia menyebut diperlukan perawatan khusus (well services) untuk menjaga produksinya.
Namun, biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk perawatan sumur malah lebih besar dibandingkan hasil penjualan produksinya karena harga minyak yang belum menunjukkan perbaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, perusahaan menargetkan penurunan lifting minyak sebesar 11.500 barel per hari (bph) pada tahun depan, atau 17,88 persen. Sementara itu, target lifting gas tahun depan justru turun sebesar 76.600 setara barel minyak per hari (BOEPD).
Hardy menuturkan, saat ini Total memiliki sumur yang terdapat di lepas pantai (offshore) dan di delta sungai. Untuk mengebor satu sumur offshore dan delta, rata-rata investasi yang digelontorkan masing-masing sebesar US$30 juta dan US$7 juta.
Di samping itu, jarak antara satu sumur dengan sumur lain di blok Mahakam juga sudah sangat pendek, sehingga ruang untuk melakukan pengeboran baru juga semakin kecil. Kendati demikian, perusahaan tetap akan mengebor 24 sumur di blok Mahakam dan Tengah pada tahun depan demi menekan angka penurunan produksi (declining rate).
"Kami sebelumnya telah lakukan berbagai upaya dan berhasil membuat penurunan produksi di tahun 2016 sebesar 1 persen apabila dibandingkan tahun 2016. Memang tahun depan angka penurunannya besar, tapi di tahun jni kami harap bisa mempertahankan decline di bawah 5 persen," lanjutnya. (gen)