Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang mengatakan, produk elpiji 3 kg non-subsidi ini nantinya diperuntukkan bagi golongan masyarakat yang menganggap harga elpiji 5,5 kg terlalu mahal. Namun di sisi lain, golongan ini pun tidak berhak menikmati fasilitas distribusi elpiji tertutup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu terlihat dari penjualan gas 5,5 kg yang sudah mencapai 300 ribu ton per Agustus 2016. Angka ini tercatat 50 persen dari target penjualan di akhir tahun sebesar 600 ribu ton.
"Makanya untuk menampung perpindahan pelanggan, kami akan gunakan tabung 3 kg yang ada saat ini. Itu kan jumlahnya puluhan juta tabung. Dan sebenarnya, menggantinya ke non-subsidi itu gampang, tinggal ubah jadi katup ganda (double valve) dan ganti nozzle," terangnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan, kesuksesan program distribusi elpiji tertutup justru tergantung dari kesiapan Pertamina dalam mendistribusikan tabung elpiji 5,5 kg.
Ia menuturkan, saat ini penerima tabung perdana elpiji bersubsidi di Indonesia berjumlah 54,9 juta rumah tangga. Sesuai dengan data sementara dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), penerima subsidi elpiji 3 kg lewat mekanisme distribusi tertutup adalah sebanyak 15,96 juta rumah tangga.
Untuk itu, diperlukan produk gas non-subsidi yang bisa mengakomodasi 38,97 juta rumah tangga lain, yang dianggap tak berhak menikmati distribusi elpiji tertutup.
"Tentu tantangannya banyak dalam melakukan distribusi tertutup, salah satunya adalah tabung gas 5,5 kg harus tersebar dimana-mana," ujar Wiratmaja, Jumat (9/9).
Sebagai informasi, volume subsidi gas elpiji di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 tercatat sebesar 7,09 juta ton. Angka itu lebih besar dibanding RAPBNP tahun 2016 sebesar 6,25 juta ton. (ags/gen)